Afiyah, kata penting dalam doa

Beberapa waktu lalu, jagat maya dihebohkan oleh kisah seorang ibu yang dengan tulus berdoa kepada Tuhan, memohon rezeki sebesar 13 miliar rupiah tanpa harus bersusah payah. Dalam salah satu unggahan di media sosial, seorang pengguna membagikan cerita tentang ibu tersebut rutin mengucapkan, "Ya Rabb, beri aku rezeki 13 miliar. Tanpa susah payah, tanpa lelah, dan langsung datang kepadaku." Ungkapan ini menggambarkan harapan besar sang ibu untuk mendapatkan rezeki yang melimpah tanpa harus melalui proses yang melelahkan. 

Doa itu sederhana, tapi pasti dalam harap. Siapa yang tak ingin rezeki melimpah tanpa luka dan peluh? Siapa yang tak berharap pintu langit terbuka dan rezeki datang secepat petir menyambar? Tapi waktu berjalan. Semesta tak selalu menjawab secepat keinginan. Hingga suatu hari, doa itu terkabul. Betul, angka itu datang. 13 miliar. Tepat seperti yang diminta.

Namun, tidak seperti yang dibayangkan.
Salah satu anaknya, tewas. Dan dari sanalah datangnya uang itu. Ganti rugi, kompensasi, atau apapun sebutannya. Tapi yang pasti, tak ada satu lembar pun yang bisa menutup luka kehilangan. Tak ada angka yang bisa mengganti pelukan, suara, atau kenangan dari seorang anak.

Kisah ini seperti mengetuk kita semua. Tentang bagaimana seringnya kita meminta kepada Tuhan, tanpa mengerti cara kerja langit. Kita tergesa dalam harap, tapi lupa merinci makna. Kita meminta pasangan, rezeki, jabatan, anak, tapi lupa menyertakan satu kata penting dalam doa: ‘afiyah’.

Imam Ahmad rahimahullah pernah berkata, “Aku pernah meminta kepada Allah agar bisa menghafal Al-Qur'an. Tapi aku tidak mengucapkan 'dalam keadaan afiyah’. Maka aku tidak menghafalnya kecuali di dalam penjara.” Kisah lain datang dari seseorang yang berdoa, “Ya Rabb, luangkan waktuku dan karuniakan hafalan Al-Qur'an.” Allah kabulkan. Tapi bagaimana caranya? Ia kecelakaan, lalu lumpuh. Tak bisa kemana-mana. Dan dari situlah ia punya waktu.

Ternyata, apa yang kita minta bisa saja datang, tapi lewat jalan yang tidak pernah kita bayangkan. Kadang lewat tangis. Kadang lewat kehilangan. Kadang lewat keterpurukan yang kita sendiri tak sanggup menanggungnya.

Maka belajarlah dari mereka yang pernah menyesali cara doanya. Jangan hanya meminta hasil, mintalah juga cara yang penuh rahmat. Bukan sekadar “Ya Allah, beri aku rezeki,” tapi lengkapilah, “bersama afiyah, ya Rabb.” Mintalah pasangan yang baik, dalam afiyah. Mintalah pekerjaan yang baik, dalam afiyah. Mintalah kelapangan, kebahagiaan, pencapaian, semuanya bersama afiyah.

Karena afiyah itu nikmat yang sering tak terlihat. Ia adalah keselamatan, ketenangan, dan ketulusan yang menyelimuti hidup kita. Ia bukan berarti hidup tanpa masalah, tapi hidup yang dijaga dari musibah yang menghancurkan.
Hari ini, sebelum kamu menutup doa-doa panjangmu, tambahkan satu kalimat pendek itu.

 "Ya Allah, apa pun yang aku minta... datangkanlah ia dengan penuh afiyah."

 ‘Afiyah merupakan bentuk mashdar (abstrack noun) dari kata ‘afa yang berarti al-barra minal-asqâmi wal balâya yang berarti bebas dari penyakit dan musibah (lihat Mu’jam Al-Ma’ani al-Jami’).

secara global 'afiyah artinya perlindungan Allâh bagi hambaNya dari berbagai macam penyakit dan bencana.

Makna afiat di dunia dan akhirat yaitu memperoleh keselamatan dari hal-hal yang buruk, yang otomatis mencakup seluruh keburukan yang telah berlalu maupun yang akan datang.

Afiyat mencakup keselamatan dari berbagai fitnah, penyakit, musibah dan hal-hal buruk lainnya yang terjadi di dunia ini. Sementara afiyat di akhirat, mencakup keselamatan dari siksa setelah kematian, seperti siksa kubur, siksa Neraka dan kengerian yang terjadi antara keduanya, hisab dan kesulitan-kesulitan lainnya.







Postingan populer dari blog ini

Cara Obati luka batin dan memaafkan orang lain

Cara mengobati luka batin versi lengkap, Ruqyah diri sendiri dan Ruqyah Air